Astaga, Sederet BUMN Ini Punya Utang Bernilai Fantastis

Penyalainews - Kinerja keuangan badan usaha milik negara (BUMN) belakangan mendapat sorotan masyarakat Indonesia. Meski terlihat baik-baik saja, ternyata sejumlah BUMN besar memiliki utang bernilai fantastis.

Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk menyehatkan kembali perusahaan yang terlilit masalah tersebut, bahkan di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai. Pasalnya, dampat terberat akan menyasar pekerja tingkah bawah jika masalah ini dibiarkan.

Lalu, BUMN mana saja yang memiliki utang bernilai fantastis?

Garuda Indonesia

Kesulitan keuangan tengah melanda maskapai nasional Garuda Indonesia yang menjadi imbas dari berbagai masalah dan dampak pandemi Covid-19. Hingga kini, utang perseroan terus menumpuk mencapai Rp 70 triliun bahkan diperkirakan akan terus bertambah Rp1 triliun tiap bulannya.

Menurut Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo, penyebab timbulnya utang ini karena biaya sewa (leasing) pesawat yang di luar batas wajar, jenis pesawat yang terlalu banyak dan rute penerbangan yang tidak menguntungkan.

Berbagai siasat dilakukan untuk menyelamatkan BUMN penerbangan ini, mulai dari pensiun dini karyawan hingga penangguhan gaji komisaris, seperti dilansir dari Merdeka.com, Selasa (8/6).

BUMN Karya

Masalah utang yang melampaui batas wajar juga dialami BUMN-BUMN di bidang konstruksi. Rincian total utang BUMN konstruksi seperti Adhi Karya mencapai Rp34,9 triliun, Waskita Karya Rp91,76 triliun, PTPP Rp39,7 triliun, dan Wijaya Karya Rp45,2 triliun.

Menurut ekonomi, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity (DER) Adhi Karya memiliki angka yang tinggi dibanding BUMN karya lainnya. Adapun DER Adhi Karya mencapai 5,76 kali. Untuk DER Waskita Karya sebesar 3,42 kali, PT PP (Persero) Tbk sebesar 2,81 kali dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebesar 2,70 kali.

PLN

Tak hanya Garuda Indonesia dan BUMN Karya, PT PLN (Persero) juga disebutkan terlilit utang yang nilainya mencapai Rp 500 triliun pada akhir 2019. Utang dalam jumlah besar itu menjadi beban perusahaan pelat merah tersebut lantaran sibuk mencari pinjaman untuk membiayai proyek kelistrikan 35 ribu megawatt (MW).

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan, kenaikan utang sebesar Rp500 triliun tersebut terjadi dalam 5 tahun terakhir. Padahal, pada 2014 perseroan hanya berutang tidak sampai Rp 50 triliun

 

Comment