Biografi, Miftah Pemuda Desa Peraih Beasiswa S2 Universitas Ternama di Korea

banner 160x600

Women face

PENYALAINEWS.COM, JEMBER - Lahir di sebuah desa kecil yang jauh dari pusat kabupaten Jember tidak lantas membuat pemuda asal desa ini berkecil hati dalam meraih impiannya. Terbukti, dengan impiannya yang sangat kuat kini di usianya yang genap 25 tahun ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 di Korea dengan beasiswa penuh.

Ia adalah M Miftah Khoirul Fahmi, pemuda desa yang lahir pada 19 September 1993, di Dusun Sulakdoro, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Pemuda yang akrab dengan nama  panggilan Miftah ini, beruntung karena terlahir dari kedua orang tua yang sangat melek dengan urusan pendidikan. Hal tersebut terbukti pada saat Miftah tamat dari SD dengan usia yang cukup balia, orang tuanya menyekolahkannya di salah satu SMP/MTs yang jauh dari rumahnya. Ia sekolah di MTsN 2 Jember. Karena jarak antara sekolah dan rumahnya begitu jauh, ia harus  tinggal di Pondok Pesantren yang mengharuskan dirinya hidup secara mandiri.

Ketika menginjak SMA, Miftah melanjutkan studinya di MAN 1 Jember. Bagi kebanyakan remaja, masa SMA adalah masa paling indah. Akan tetapi hal itu tidak untuk Miftah, justru SMA adalah masa-masa terberatnya karena ayahnya divonis terkena kanker hati. Dokter mengatakan bahwa umur Ayahnya tidak lebih dari 6 bulan. “Ternyata apa yang disampaikan dokter benar, tidak sampai 6 bulan ayahnya meninggalkannya serta keluarganya,” ungkap Miftah. Kamis, (04/10).

Tamat dari SMA ia sempat mau tidak melanjutkan kuliah, karena ia diterima di Universitas Brawijaya Malang dengan biaya yang cukup tinggi menurutnya. Tapi karena dorongan keluarga, lau ia meminta keringanan biaya kepada pihak kampus. Dengan usaha tersebut, lalu kampus memberi keringanan. Sehingga dapat melanjutkan studinya fakultas perikanan dan ilmu kelautan.

Selama kuliah, selain aktif dengan aktifitas kuliah Miftah juga sangat aktif di berbagai Organisasi baik intra maupun ekstra kampus seperti Eksekutif Mahasiswa, Himapikani, HMI, dll. Selain itu miftah juga sering mengikuti konferensi dan seminar nasional. Hingga pada puncaknya ditahun 2014 ia terpilih sebagai Sekjen Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia di Universitas Mulawarman, Samarinda.

Menjadi ketua organisasi nasional, menjadikan Miftah semakin banyak dikenal dikalangan aktivis perikanan, tokoh perikanan, pengusaha perikanan, hingga pejabat perikanan. Organisasi yang ia pimpin pun juga sering mengadakan kerjasama dengan Kementerikan Kelautan dan Perikanan hingga pada tahun 2016 organisasi yang ia pimpin dipercaya untuk menjadi pimpinan forum pertemuan mahasiswa perikanan asia afrika. Tidak hanya itu, organisasinya juga sempat menebitkan buku serta banyak membuat kegiatan baik secara nasional dan internasional yang berlokasi di Aceh, Riau, Makasar, Malang, Maluku, Lombok. Saat ini Miftah aktif sebagai wakil sekretaris jendral Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN). Organisasi konfederasi dari 7 organisasi perikanan nasional.

Miftah terbilang cukup sukses di bidang organisasi. Akan tetapi, dirinya merasa ada yang kurang, karena belum bisa menginspirasi anak-anak muda di kampungnya. Di kampung ia lahir, masih banyak anak-anak yang hanya berhenti dibangku SMA. Dari situlah, ia ingin berbuat sesuatu agar anak-anak dikampungnya semangat untuk melanjutkan studi hingga S1 atau bahkan lebih. Tuturnya.

Masalah mendasar bagi anak-anak dikampungnya adalah masalah biaya serta minimnya orang yang bisa menginspirasi anak-anak bahkan orang tua nya sendiri. Bicara sekolah, pasti berfikir masalah biaya yang besar. Dan belum tentu orang yang kuliah akan menjadi orang sukses.

Dari situlah Miftah berfikir untuk bagaimana mematahkan pemikiran seperti diatas. Lalu ia memutuskan untuk malanjutkan studinya ke luar negeridengan beasiswa (tanpa biaya). Karena dengan demikian, ia berharap bahwa sekolah tidak harus dengan modal besar. Yang terpenting adalah Man Jadda Wajadda (Siapa yang bersungguh-sunguh maka akan mendapatkannya). Kemudaiania memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memakai uang hasil kerjanya untuk memenuhi kriteria beasiswa seperti kursus bahasa dll. Setelah berjuang beberapa bulan, alhasil keputusan yang ia ambil berbuah manis, tepat pada tgl 11 Juli 2018 ia mendapatkan surat bahwa ia diterima di Pukyong Universiti, Busan South Korea. (arianto)