Obligasi dan Problem pada PT. TIGA PILAR SEJAHTERA

Penyalainews - Kali ni akan membahas mengenai Oligasi dan masalah yang ada disalah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang Makanan yaitu PT. TIGA PILAR SEJAHTERA (TPS)

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (TPS Food) terancam didepak (delisting) dari bursa lantaran saham produsen makanan ringan bermerek “Taro” ini telah dihentikan perdagangannya selama lima belas bulan terakhir sejak 5 Juli 2018.

Pertama, mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat, baik secara finansial atau secara hukum, dan perusahaan tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. Kedua, saham perusahaan tercatat telah dihentikan perdagangannya atau suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, serta hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

“Bursa meminta kepada publik untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk informasi yang disampaikan oleh perseroan,” tulis surat keterbukaan informasi yang ditandatangani oleh Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia Adi Pratomo Aryanto dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional perusahaan

 Seperti diketahui cukup banyak masalah yang mendera TPS Food dalam setahun terakhir. Berawal dari tuntutan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atas pembayaran bunga ke-21 obligasi dan sukuk ijarah TPS Food I tahun 2013 pada 4 Juli 2018. Setelah pengumuman itu saham AISA mulai di-suspensi oleh bursa hingga saat ini.

Selain itu terjadi dualisme kepemimpinan di perusahaan produsen beras kemasan bermerek dan makanan ringan ini. Komisaris perusahaan menunjuk direksi baru, Hengky Koestanto, melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 22 Oktober 2018. Namun keputusan ini ditentang direktur utama yang lama, Joko Mogoginta. Menurut dia RUPSLB tersebut tidak sah karena tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk alias TPS Food merestrukturisasi surat utang yang telah jatuh tempo pada April tahun lalu. Total utang yang direstrukturisasi emiten berkode saham AISA itu mencapai Rp 2,1 triliun. Langkah restrukturisasi itu berupa perpanjangan tenor, penurunan suku bunga, hingga konversi utang menjadi saham. Dalam keterbukaan informasi disebutkan bahwa salah satu obligasi yang direstrukturisasi yaitu Obligasi TPS FOOD I Tahun 2013 dengan nilai pokok Rp 600 miliar.

 PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) atau TPS Food memperpanjang jatuh tempo tiga surat utang dengan total Rp 2,1 triliun hingga 30 Juni 2029. Aksi ini bagian dari kesepakatan restrukturisasi utang yang ditempuh perseroan sejak 2019. Restrukturisasi tiga surat utang ini diungkap perseroan melalui penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI)

 Pertama, Obligasi TPS Food I Tahun 2013 sebesar Rp 600 miliar. Obligasi ini semula jatuh tempo pada 5 April 2019. Sementara tingkat suku bunganya diturunkan menjadi 2% per tahun dari sebelumnya 10,25% per tahun. Selanjutnya, Sukuk Ijarah TPS Food I Tahun 2013 senilai Rp 300 miliar. Sebelumnya, jatuh tempo sukuk ini adalah 30 Juni 2019. Pada sukuk ini, perseroan juga mendapatkan penurunan tingkat bunga menjadi 2% per tahun dari semula 10,25%. Terakhir, Sukuk Ijarah TPS Food II Tahun 2016 senilai Rp 1,2 triliun, yang awalnya jatuh tempo pada 19 Juli 2021.

Sukuk ini pun juga mendapatkan relaksasi imbal hasil menjadi 2% per tahun dari sebelumnya 10,55%. Seluruh surat utang TPS Food ini memiliki opsi konversi menjadi saham dengan target konversi mulai 30 Juni 2022 dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham. Sementara itu, TPS Food berupaya menyelesaikan sejumlah kewajiban sebagai perusahaan terbuka. Saham perseroan telah dihentikan perdagangannya sejak 2018. Periode suspensi tersebut akan mencapai 24 bulan pada 5 Juli 2020. Jika suspensi melewati batas tersebut, maka saham AISA berpotensi dihapuskan atau delisting.

Kewajiban manajemen TPS Food kepada BEI yang belum dipenuhi adalah laporan keuangan kuartal I-2018, laporan tengah tahunan 2018, kuartal III-2018, kuartal I-2019, kuartal III-2019, laporan tahunan 2019, dan kewajiban finansial kepada BEI. Perseroan menargetkan, penyampaian seluruh laporan keuangan tersebut akan dilakukan pada pekan ketiga atau keempat Juni 2020

Dari Pembahasan diatas, Kesimpulan atau Pendapat kami , PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk disarankan untuk melakukan pengelolaan manajemen utang yang lebih baik dan mengelola kegiatan operasional perusahaan dengan lebih efesien sehingga dapat menekan biaya operasional. Karena jika dilihat jumlah hutang selalu meningkat setiap tahunnya dan untuk melunasi hutang perusahaan menggunakan hutang baru atau melakukan penerbitan surat utang membuat hutang perusahaan semakin menumpuk.

2.Bagi perusahaan yang sedang menghadapi kesulitan keuangan,perusahaan disarankan untuk mengikuti jejak PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk dalam melakukan kegiatan penjualan lini bisnisyang sudah tidak memberikan manfaat serta melakukan kegiatan pencarian dana tambahan lewat penerbitan efek atau pinjaman ke bank, namun dengan melakukan pengelolaan utang yang baik dan perencanaan pengembalian yang jelas sehingga tidak mengalami kasus gagal bayarseperti AISA.

3.Bagi investor kurang disarankan melakukan kegiatan investasi pada sahamPT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) dikarenakan kondisi keuangan perusahaan yang kurang sehat. Sedangkan bagi investor yang sudah berinvestasi pada saham AISA disarankan untuk melakukan kegiatan jual saham saat harga saham masih lumayan sehingga kerugian yang mungkin diperoleh lebih sedikit.

Demikian Pembahasan dari kami, semoga bermanfaat bagi teman-teman dan semua nya yang membaca

Penulis : Ria Maranata Siburian dan Dewi Clarita Togatorop

Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Riau

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis

Angkatan 2019

Comment