Pengamat Politik : KPK diminta Segera Periksa Hasto terkait Laporan Saeful

Penyalainews, Jakarta - Publik sejenak terhenyak saat Wahyu Setiawan salah satu Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menelisik kasus ini, Jerry Massie Direktur Eksekutif Political and Public Policy mengatakan ditangkapknya Wahyu mengindikasikan kredibilitas lembaga penyelenggara pemilu ini mulai rapuh.

“Sial saja si Wahyu, barangkali di KPU dirinya seorang yang terkena OTT. Namun bukan tidak mungkin yang lain bisa terkena juga sama persis dengan Wahyu.

Memang untuk memberhentikannya harus dari Presiden tapi melalui proses panjang. Selama ini KPU yang Getol menolak napi koruptor ikut pilkada justru mereka yang tertangkap tangan.” ujar Jerry, dalam rilis yang diterima Penyalainews.com, Sabtu (11/1/2020).

Lebih lanjut kata dia, aturan tentang pemberhentian anggota KPU ada di UU Nomor 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu, Sebetulnya beber Jerry, akan mudah mengetahui jika para petinggi di negeri ini bersih atau tidak.

Semua ini bisa dilihat dari Laporan Harta Kekayaaan Pejabat Negara (LHKPN) tapi selama ini baik PPATK dan OJK tak jalan jadi banyak pejabat yang lolos.Jerry mencontohkan kekayaan Wahyu mencapai Rp12,8 miliar.
Darimana uang sebanyak itu perlu ditelusuri. Berbeda jika dia seorang pengusaha sebelum menjabat Komisioner KPU.

“Kan dari (Salary,Red) dan tunjangan bisa diketahui. Langkah preventif lain baik petinggi Bawaslu, KPU dan lainnya jangan sembarangan turun daerah dan bertemu dengan anggota dan petinggi parpol, calon Gubernur, Walikota, Bupati bahkan kepala daerah,” ucapnya.

Karena kurangnya pengawasan terhadap petinggi lembaga negara tegas dia, jadi manuver mereka kerap tak terdeteksi. Sudah saatnya pejabat tinggi sering terbang ke luar daerah dibatasi, dapat hadiah, sampai main golf bersama.

“Dengan ditangkapnya kader PDI-P yang hendak menyuap salah satu komisioner KPU, maka ini bisa membuka tabir dan kebobrokan mereka selama ini. Ada pepatah : Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Jadi penyelenggara negara harus sadar siapa mereka sesungguhnya,” ujarnya.

Selain itu, Jerry juga menanggapi testimoni dari Saeful, yang menyuap KPU disebutkan duit tersebut berasal dari (Hasto, Red) Sekjen PDI-P. Tapi herannya kantor PDI-P tak bisa digeledah bagi saya kalau memang tak bersalah tak perlu takut dan gentar.

“Tapi, bersalah tidak bersalah Sekjen PDI-P ini, maka perlu juga dimintai kesaksian dan segera di periksa oleh KPK Saeful sudah berngiang kemana-kemana jadi harus segera dibuktikan,” katanya.

Soalnya jika Saeful memberikan keterangan palsu maka dia bisa dijerat UU pidana Pasal 242 ayat (1) KUHP mengancam pidana penjara 7 tahun barangsiapa yang dalam keadaan dimana Undang-Undang menentukan supaya memberikan keterangan di atas sumpah atau mengadakan akibat hukum kepada keterangan yang demikian dengan sengaja memberikan keterangan palsu di atas sumpah, baik lisan maupun tulisan.

“Tapi, saya salut dengan pernyataan Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang tak kompromi dengan koruptor. Yang mana dia menyatakan tak akan membela jika kadernya menyimpang dan tersangkut kasus korupsi,” pungkas Jerry.***red/rfm

Editor : Rezky FM

 

Comment