Penyidik Polda Dipropamkan Terdakwa Kepemilikan 37 Kg Sabu

Penyalainews, Bengkalis - Penyidik Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Riau bakal dilaporkan ke Divisi Propam Mabes Polri. Laporan itu disampaikan atas dugaan pelanggaran etik dalam proses penyidikan.

Adapun pihak yang akan membuat laporan itu adalah Suci Ramadianto, Rojali, Iwan Irawan, Surya Darma dan Muhammad Haris. Kelimanya berstatus terdakwa yang kini tengah menjalani proses persidangan dalam perkara dugaan kepemilikan 37 kilogram sabu-sabu di Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis.

Demikian diungkapkan Achmad Taufan Soedirjo selaku Kuasa Hukum para terdakwa, Minggu (4/8) kemarin. Dikatakannya, sejak tahap penyidikan, perkara tersebut terkesan dipaksakan ke meja hijau. Fakta itu terungkap dari keterangan para saksi yang dihadirkan ke muka persidangan.

Kejanggalan diawali dari temuan 37 kilogram sabu oleh polisi di dalam sebuah pompong atau kapal kayu kecil bermesin di perairan Pulau Bengkalis, akhir Desember 2018 lalu. Faktanya, polisi sempat menggeledah kapal itu.

Namun, dari penggeledahan kapal kecil tersebut tidak ditemukan barang mencurigakan, termasuk puluhan bungkus sabu-sabu yang menurut polisi disimpan dalam karung besar. Logikanya, kata Taufan, barang bukti itu akan dengan mudah ditemukan di dalam kapal berukuran kecil yang biasa digunakan nelayan mencari ikan tersebut.

“Saksi Muhammad Rival yang merupakan anggota Pol Air Polres Bengkalis di bawah sumpah bersaksi telah melakukan penggeledahan sesuai SOP. Dari tindakannya itu tidak menemukan hal mencurigakan selain kapal motor itu kehabisan minyak,” ujar Taufan.

Karena kehabisan minyak, maka Rozali dan Iwan yang saat itu berada di atas kapal diizinkan saksi meninggalkan kapal untuk membeli bahan bakar. Akan tetapi, sekembalinya mereka ke kapal, justru polisi menyebut telah menemukan 37 kilogram sabu-sabu.

“Pada saat penggeledahan, itu harus dihadirkan para terdakwa. Namun saat dilakukan penggeledahan kembali dan ditemukan barang bukti. Justru barang bukti tidak ditemukan polisi namun warga sipil. Kemudian, terdakwa sama sekali tidak berada di kapal. Malah diizinkan pergi. Saat mereka tidak di kapal justru ditemukan narkoba,” sebutnya.

Selanjutnya, ketika para pelaku ditangkap, penunjukkan kuasa hukum justru dilakukan oleh penyidik yang notabene merupakan relasi dari pihak kepolisian. Permasalahan mulai muncul ketika penyidik menentang rencana para terdakwa untuk melakukan praperadilan.

Dia mengatakan berdasarkan keterangan kliennya, mereka terus diintimidasi untuk mengakui bahwa sabu-sabu yang ditemukan saat kapal dalam keadaan kosong itu merupakan milik terdakwa. Termasuk memaksa Rojali menyebutkan 10 kilogram di antaranya milik terdakwa Suci.

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga tidak kunjung menghadirkan saksi-saksi kunci. Termasuk warga sipil yang disebut polisi menemukan sabu-sabu itu.

Selain itu, Jaksa juga tidak bersedia menghadirkan saksi ahli IT dan ahli perbankan terkait barang bukti sejumlah ponsel serta foto transaksi uang yang digelar di depan hakim.

“Saat ini, seluruh terdakwa telah mencabut berita acara pemeriksaan (BAP) di Polisi. Begitu banyak kejanggalan yang telah terjadi sejak awal perkara ini bergulir,” sebut Taufan.

Terpisah, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto mempersilakan para terdakwa untuk melaporkan penyidik ke Propam Mabes Polri.

“Setiap warga negara mempunyai kedudukan hukum yang sama. Silakan melaporkan bila merasa ada tidak sesuai aturan dalam proses penyidikan,” singkat Kombes Pol Sunarto.

Untuk diketahui, perkara narkoba yang menjerat lima terdakwa itu berawal dari temuan 37 kilogram sabu-sabu dan 75.000 ekstasi serta 10.000 pil happy five tak bertuan di sebuah kapal pompong di perairan Kembung, Kabupaten Bengkalis.

Hasil penyidikan, Polisi saat itu menangkap tiga tersangka. Mereka adalah Suci, Surya Darma dan Muhammad Haris. Belakangan, Rojali dan Iwan turut diamankan dan dijadikan tersangka. Kini perkara tersebut tengah disidangkan di PN Bengkalis.***red/frd

Sumber : Haluanriau.co

Comment