Rekam Jejak 3 BUMN yang Hendak Dibubarkan

Penyalainews - Kabar terkait 7 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan dibubarkan menyeruak beberapa waktu lalu. Kendati masih berdiri ketujuh BUMN itu tak lagi beroperasi alias mati suri dan menjadi pasien PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero)/PPA.

Menteri BUMN, Erick Thohir membenarkan kabar tersebut. Erick mengatakan para BUMN tersebut bahkan sudah mati suri sejak 2008.

"Jadi bukan BUMN yang beroperasi, sudah dari tahun 2008 itu mati beroperasi," kata Erick, mengutip detikcom, Kamis (6/5).

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkap BUMN yang akan dibubarkan, yakni PT Industri Gelas (Persero) atau Iglas, PT Kertas Leces (Persero), dan PT Kertas Kraft Aceh (Persero) atau KKA.

Tapi ternyata ada sejarah menarik dari ketiga nama BUMN tersebut.

PT Industri Gelas (Persero)

Tahun lalu, PT Industri Gelas atau Iglas sempat boobing. Bahkan, sempat dijuluki sebagai BUMN 'Hantu'.

Pasalnya, sejak 2003 Iglas mengalami kerugian secara berturut-turut hingga 2006. Pada 2006 rugi bersihnya mencapai Rp 50 miliar dan menggerus equitynya menjadi Rp 9 miliar saja.

Kerugian yang tinggi tersebut membuat pemerintah ingin melego perusahaan itu pada 2007. Pemerintah berupaya mencapai strategic investor.

Tapi, rencana itu seperti menguap. Pemerintah kembali membuat rencana untuk PT Iglas pada 2010, yakni dimerger atau digabungkan dengan 2 BUMN sakit lainnya, yaitu PT Industri Sandang atau PT Garam.

Rencana untuk membubarkan BUMN ini bukan tanpa alasan. Selain dianggap tak berguna, ternyata BUMN ini punya rekam jejak yang buruk Mulai dari aset perusahaan yang pernah disita hingga mantan dirut yang menjadi DPO kasus korupsi selama 8 tahun.

Lalu, pada 26 Mei 2017 Pemerintah Kota Surabaya melayangkan gugatan kepada PT Iglas yang memperkarakan aset dengan nomor perkara 394/PDT.G/2017/PN.SBY. Lalu satu tahun berselang perkara itu dimenangkan oleh Pemkot Surabaya.

Satu persatu aset Pemerintah Kota Surabaya dikembalikan dari PT Iglas. Salah satunya aset di Jalan Ngagel 153-155 yang dulunya digunakan untuk memproduksi pabrik gelas oleh PT Iglas.

Selain itu, sang mantan Dirut BUMN Hantu ini, Daniel Sunarya Kuswanti menjadi DPO kasus korupsi 13 miliar. Dia buron selama 8 tahun hingga akhirnya tertangkap pada November 2019.

Dia dihukum 4 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan. Selain itu terdakwa juga dibebankan membayar uang pengganti senilai Rp 13,9 miliar subsider 2 tahun penjara.

PT Kertas Leces (Persero)

PT Kertas Leces (Persero) menghadapi masalah yang sepertinya sangat berat hingga membuatnya mati suri sejak 2010-2011. Saat itu bahkan, Kertas Leces dianggap sering merengek-rengek minta bantuan dana ke pemerintah.

Menteri BUMN saat itu Dahlan Iskan, bahkan mengusulkan agar kelebihan daya pembangkit listrik yang dimiliki oleh pabrik Kertas Leces bisa dimanfaatkan dengan cara dijual kepada PLN untuk tambahan penghasilan.

"Sebagian dijual ke PLN, Kertas Leces punya penghasilan untuk bayar gaji. Dengan demikian tidak ngemis terus. Karena boiler itu bisa membangkitkan listrik 60 MW (Mega Watt). Karena turbinnya banyak yang lama, maka kira kira yang bisa jual 20 sampai 30 MW, 30 MW (sisanya) untuk harian (operasional)," kata Dahlan, Senin (30/4/2012).

Setahun berikutnya, BUMN kertas ini menyatakan diri bahwa bisnisnya kembali hidup. Saat itu, perusahaan menyatakan akan memasok dan memproduksi kertas jenis HVS kepada Persatuan Perusahan Grafika Indonesia (PPGI) sebanyak 70.000 ton.

Orderan kertas sebanyak 70.000 ton dikontrak selama 1 tahun dengan nilai transaksi mencapai Rp 600 miliar.

Tapi, nasib Kertas Leces beberapa tahun setelahnya berakhir di Pengadilan Niaga Surabaya. Pada 25 September 2018, perusahaan pun dinyatakan pailit.

Aset perusahaan lantas harus dijual untuk menutup kewajiban yang harus dibayarkan ke kreditur. Belum secara rinci, namun kewajiban yang harus dibayarkan sekitar dua kali dari aset perusahaan sekitar Rp 1 triliun.

Ternyata masalah tak hanya sampai di situ. Salah satu kreditur yakni PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA tak terima karena merasa tidak mendapat jatah semestinya dari salah satu aset yang dilepas.

PT Kertas Kraft Aceh (Persero)

Pada 2007, PT Kertas Kraft Aceh (KKA) sempat kolaps. Kala itu Menteri BUMN, Sofyan Djalil. Dia pernah mengatakan bahwa perusahaan itu menghadapi masalah utama, yakni terbatasnya ketersediaan bahan baku sehingga kegiatan operasional terganggu.

Meskipun saat itu dia menilai produsen kertas itu masih bisa diselamatkan. "Kemungkinan kita bisa melakukan restrukturisasi tanpa harus likuidasi. Itu sedang di-explore lebih lanjut," katanya Selasa (18/8/2009).

Wacana untuk kembali menghidupkan KKK muncul pada 2018. Ketika itu, mulai direncanakan revitalisasi pabrik dan butuh waktu sekitar 3 tahun.

"Untuk revitalisasi pabrik dan pengelolaan hutan memerlukan dana sekitar Rp 1 triliun," kata Direktur Utama PT. Kertas Kraft Aceh (KKA) Seto Karjanto, dalam keterangan tertulis, Jumat (20/7/2018).

Menariknya, ternyata BUMN ini memberi kenangan bagi orang nomor 1 di Indonesia saat ini, Presiden Joko Widodo. Jokowi pernah bekerja di KKA saat tinggal di Aceh.

Kala itu, Jokowi bekerja sebagai supervisor untuk servei hutan dan potensi bahan baku kertas. Dia bekerja dan tinggal di Aceh sekitar dua tahun yaitu pada tahun 1986-1988.

 

Comment