Sudah 604 Warga Bengkalis Diserang TBC

Penyalainews, Bengkalis - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkalis mencatat, dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang ada terdapat sebanyak 604 penderita penyakit TBC dengan semua tipe pada tahun 2018 lalu.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 73 penderita adalah anak-anak (12,08 persen) dan kasus baru (incident) tahun 2018 sebesar 435 kasus. Cakupan pengobatan sebanyak 133 penderita (22,07 persen) dan dari 133 penderita yang diobati tersebut, 124 orang (93,3 persen), di antaranya berhasil disembuhkan. Juga terindikasi kendala masih banyaknya penderita yang drop out, pindah dan tidak ditindaklanjuti dan sebagian besar adalah tidak taat dalam pengobatan.

Rendahnya penemuan penderita TBC (case detection rate) juga disebabkan oleh masih kurangnya kepedulian masyarakat tentang bahaya penyakit TBC, karena jika menderita batuk masih sering beranggapan batuk biasa.

Demikian disampaikan Kepala Dinkes Kabupaten Bengkalis dr. Ersan Saputra TH melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Alwizar kepada sejumlah wartawan, Rabu (10/7) siang.

Lebih lanjut disampaikan Alwizar, Dinkes Kabupaten Bengkalis telah melakukan sosialisasi dalam berbagai kesempatan dan dengan metode yang bermacam-macam untuk meningkatkan penemuan kasus penderita TBC di masyarakat.

Dinkes juga menerapkan telah strategi penemuan penderita secara pasif di fasilitas pelayanan kesehatan, yaitu RSUD dan Puskesmas-Puskesmas. Dengan Program TOSS (Temukan, Obati Sampai Sembuh) TBC adalah salah satu cara sosialisasi tentang cara mengeliminasi penyakit ini.

“Alhamdulillah, sekarang kepedulian dari mitra kita, rumah sakit swasta seperti RS. Permata Hati, RS. Chevron Pacific Indonesia (CPI), RS. A’ad, dan RS. Thursina serta dokter praktek mandiri sudah sangat konsen mendukung kebijakan ini. Mereka membantu dalam screening, selanjutnya pasien dirujuk ke Puskesmas terdekat, sesuai alamat pasien tersebut untuk memperoleh pengobatan TBC secara lengkap dan gratis,” jelas Alwizar.

Sambung Alwizar, selain Strategi penemuan secara aktif penderita, juga dilakukan strategi penemuan secara aktif, yaitu penemuan berbasis keluarga dan masyarakat. Caranya adalah dengan melakukan penjaringan di masyarakat, dalam hal ini dibantu oleh PKK desa/kelurahan, Kader Posyandu, dan Ormas.

Tahun 2017 Kemenkes RI menjalin kerja sama dengan Lembaga Perempuan Muhammadiyah untuk melakukan penjaringan penderita TBC sampai ke desa-desa. Kemudian pada tahun 2018 kerja sama tersebut dilanjutkan dengan Lembaga Keumatan Nahdatul Ulama (LKNU).

Di Provinsi Riau, dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2018 penderita Penyakit TBC Untuk Semua Type adalah sebesar 11.135 penderita, dengan jumlah kasus baru pada tahun yang sama sebesar 5.132 kasus. Tingkat Penemuan Kasus (Case Detection Rate) sebesar 40,3 % dari Jumlah Total Kasus dengan Tingkat Keberhasilan Pengobatan (Succes Rate) pada Tahun 2018 sebesar 79,82 %.”

Penyakit Tuberkulosis atau biasanya dikenal dengan istilah TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Bakteri Micobacterium Tuberkulosa. Penularan dari penderita kepada orang yang sehat dapat melalui udara yang mengandung Basil TB dari percikan ludah yang dikeluarkan oleh penderita pada saat mereka batuk, bersin, bernyanyi.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mencanangkan target Eliminasi TBC pada 2035 dan Eradikasi TBC dari Indonesia pada tahun 2050 sebagai bagian dari komitmen internasional.

Tidak ada jalan lain, bahwa semua penderita harus ditemukan dan diobati sampai sembuh untuk mendukung target nasional tersebut, karena satu penderita TBC dapat menularkan kepada 10-15 orang lain, terutama anggota keluarganya dan teman-teman dekatnya.

“Kita mengajak kepada seluruh masyarakat, jika ada keluarga, saudara, sahabat yang mengalami batuk selama lebih dari 15 hari, agar segera memeriksakan dahaknya ke Puskesmas terdekat, jika terduga atau pun menderita TBC dapat dilakukan pengobatan secara gratis,” imbaunya.

Kepada rumah sakit swasta dan dokter praktek mandiri juga diharapkan agar membantu menemukan penderita dengan cara dari hasil screening, jika terduga TBC maka pasien tersebut segera dikirim ke Puskesmas sesuai alamatnya untuk mendapatkan pengobatan lengkap dengan Sistem Directly Observed Treatmen Shotcourse yang berpedoman kepada International Standar for TB Care (ISTC) dan hal tersebut sudah diatur dalam Peraturan Bupati Bengkalis Nomor 21/2016 tentang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit TBC di Kabupaten Bengkalis.***red/frd

Sumber : Haluanriau.co

Comment