Di Kampar, Materi Ujian SD Disematkan Kampanye Antisawit

Penyalainews, Kampar - Materi ujian di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Kampar disematkan kampanye negatif terhadap sawit. Tanggapan keras datang dari mahasiswa yang menilai kampanye negatif sawit sudah berlangsung secara sistematis di Indonesia, bahkan hingga menyasar anak-anak sekolah.

Padahal, tanaman palma dan produk turunannya itu sudah menjadi bagian dari penyumbang devisa terbesar negara, terutama di tengah krisis pandemi Covid yang tengah melanda Tanah Air saat ini.

“Kami protes keras soal ujian disalah satu SD di Riau yang mendiskreditkan sawit. Kami menilai itu upaya penggiringan yang terstruktur, sistematis, dan massif agar anak-anak Indonesia membenci sawit. Itu bahaya, kalau anak sekolah dasar pun telah dicekoki hal semacam itu," kata Ketua DPP Forum Mahasiswa Sawit (FORMASI) Indonesia Amir Aripin Harahap di Pekanbaru, Selasa (8/6).

Aripin menyebutkan pertanyaan dalam lembar ujian itu dimuat dalam bentuk soal pilihan ganda urutan ke-17 yang berbunyi Dampak negatif interaksi manusia dengan lingkungan pada perkebunan kelapa sawit adalah...? A. Meningkatkan lapangan pekerjaan, B. Meningkatkan pembangunan daerah, C. Berkurangnya sumber daya air, dan D. Pemukiman penduduk semakin banyak.

Menurut Aripin cukup banyak penelitian yang mementahkan bahwa sawit merupakan tanaman boros air. Sehingga dapat dikatakan, stigma itu adalah bagian dari kampanye negatif yang dihembuskan pihak tertentu, termasuk menuduh bahwa sawit tidak ramah lingkungan.

"Begitu banyak penelitian yang jelas menunjukkan sawit adalah tanaman yang efesien dalam pemanfaatan air dibandingkan dengan kelapa, kedelai, jagung, bahkan rapeseed sekalipun, yang merupakan bahan baku minyak nabati dominan di Eropa. Saya tekankan, justru saat ini sawit merupakan penopang ekonomi bangsa yang sangat signifikan," tuturnya.

Bersama FORMASI, Aripin berharap kejadian serupa tidak terulang kembali apalagi saat ini perekonomian bangsa Indonesia sangat bergantung pada sektor sawit ini. Bahkan, kata dia, perhatian serius diberikan Presiden Joko Widodo untuk sektor kelapa sawit Indonesia selama tujuh tahun terakhir.

“Kami minta agar Bapak Menteri Pendidikan mengevaluasi dan menegur pihak SD itu. Agar hal semacam ini tidak terulang lagi di seluruh sekolah di Indonesia. Dinas Pendidikan itu tugasnya mendidik anak-anak sekolah, bukan malah sibuk berkampanye negatif dengan memanfaatkan anak didiknya," ujarnya.

Selanjutnya, Amir mengatakan akan memberikan pengertian kepada pihak sekolah untuk tidak memahami sawit dan menuangkannya dalam bentuk pertanyaan kampanye negatif. Bahkan, ia mewanti-wanti jika ternyata yang menyusun pertanyaan justru merupakan bagian dari kelompok tertentu yang terus menerus mengampanyekan sawit secara negatif.

"Harusnya kita sebagai bangsa Indonesia bangga bahwa sawi Indonesia adalah anugerah untuk Dunia. Sudah menjadi tugas kita untuk terus sosialisasi, memberikan pemahaman yang sebenarnya tentang kelapa sawit," harapnya.

 

Sumber: ANTARA

 

Comment