Ketua KNPI Rumbai Timur Kritis Usai Dikeroyok, Saksi : Korban Sudah Tak Berdaya Saat Diserang

Penyalainews, Pekanbaru – Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Rumbai Timur, Aditya Permana, dilaporkan dalam kondisi kritis setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang di area parkir Swalayan O2, Rumbai, pada 17 November 2025. 

Insiden ini menimbulkan keprihatinan luas karena selain menyebabkan luka serius, sejumlah barang pribadi milik Aditya juga dikabarkan hilang.

Menurut informasi yang dihimpun, peristiwa terjadi secara cepat dan diduga sudah terencana. Sejumlah warga yang berada di lokasi menyebut bahwa pelaku bergerak dalam kelompok dan langsung menyerang korban tanpa ada percakapan panjang.

Seorang saksi mata berinisial R, yang berada di dekat lokasi saat kejadian, menyebutkan bahwa serangan berlangsung brutal.

“Saya lihat korban langsung dikerumuni beberapa orang. Mereka memukul bertubi-tubi. Korban sudah tidak berdaya, tapi serangan masih berlanjut,” ujar R saat dimintai keterangan.

R juga menjelaskan bahwa setelah pengeroyokan, beberapa pelaku terlihat membawa sesuatu yang diduga milik korban.

“Ada yang sempat membawa tas kecil dari arah korban. Setelah itu mereka kabur cepat sekali,” tambahnya.

Hingga kini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai identitas para pelaku atau detail barang yang hilang.

Namun masyarakat sekitar menduga ada kemungkinan insiden ini terkait ketegangan yang sebelumnya mencuat di lingkungan setempat. 

Dugaan motif intimidasi juga muncul, mengingat Aditya disebut-sebut menerima tekanan menjelang rencana aksi damai yang akan digelar organisasi kepemudaan tersebut.

Pihak keluarga dan jajaran KNPI Rumbai Timur menegaskan bahwa mereka akan melaporkan insiden ini secara resmi demi memastikan penyelidikan berjalan tuntas.

“Kami mendorong polisi untuk mengusut secara menyeluruh. Ini bukan hanya soal keselamatan Aditya, tapi juga soal keamanan aktivis pemuda di Riau,” ujar salah satu pengurus KNPI Rumbai Timur.

Insiden ini memunculkan kekhawatiran mengenai meningkatnya risiko kekerasan terhadap aktivis di tingkat lokal. 

Apabila nantinya terbukti terdapat unsur politik atau keterlibatan kelompok tertentu, kejadian ini berpotensi berdampak pada kebebasan berpendapat serta kualitas demokrasi di daerah.

Warga lokal menilai bahwa aparat penegak hukum harus segera bertindak cepat untuk mengantisipasi eskalasi. 

Penyelidikan yang terbuka dan responsif dinilai sangat penting untuk memberikan kepastian hukum bagi korban serta memulihkan rasa aman di tengah masyarakat.

Kasus pengeroyokan terhadap Aditya Permana ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ruang demokrasi harus tetap bebas dari ancaman, kekerasan, dan intimidasi—terlebih terhadap generasi muda yang aktif dalam kegiatan sosial dan kebangsaan.***red/rfm

Comment