Penyalainews, Batam - Konflik Rempang- Galang masih menjadi isu hangat dan memanas. Sayangnya sampai hari ini Presiden Joko Widodo belum menentukan sikap terkait bentrok warga bersama aparat Kepolisian beberapa waktu lalu.
Hari ini, sekitar 10.000 lebih masa aksi datang dari Rempang-Galang dan berbagai daerah untuk melakukan penolakan relokasi.
Menanggapi aksi Rempang-Galang itu aktifis perbatasan Riau-Kepri Ahmad Syukur mengatakan Investasi yang mengorbankan saudara kandung setanah air adalah investasi menyengsarakan rakyat.
"Seharusnya Presiden Joko Widodo jangan lagi menutup mata dan telinga beliau harus merespon cepat agar tidak terjadi korban dan darah yang lebih banyak lagi, jika ia benar-benar punya jiwa cinta tanah air,"ungkap Ahmad Syukur disela aksi unjuk rasa, Senin (11/09/2023).
Tapi hari ini, Syukur benar-benar bangga meski ia dan masyarakat tanah Melayu berdarah-darah inilah bentuk perlawanan.
"Kami mempertahan tanah sejarah nenek moyang kami dan tanah kelahiran kami, mungkin ini hal ini akan belangsung sampai kami mati ataupun sampai kehendak kami di turuti Presiden,"tegas pria asli Pulau Penyalai
Selanjutnya, terang Syukur masyarakat Pulau Rempang-Galang tetap akan menolak untuk dilakukan relokasi terhadap 16 Kampung Tua.
"Masyarakat sampai kapanpun akan menolak untuk dilakukan relokasi, ada warisan budaya yang dipertahankan mereka yaitu 16 Kampung Tua, saya berharap Presiden Jokowi mempertimbangkan persoalan Pulau Rempang-Galang," pungkasnya.***red/rfm

Comment