Penyalainews - Jet tempur pembom B1-B Lancer untuk pertama kalinya dikerahkan Angkatan Udara Amerika Serikat ke Norwegia.Dikerahkannya B1-B tersebut merupakan pesan bagi Rusia yang menegaskan bahwa militer AS akan beroperasi di wilayah Arktik.
Setidaknya empat jet tempur pembom B1 dan sekitar 200 personel dari Angkatan Udara AS di Lanud Dyess, Texas dikerahkan menuju Pangkalan Udara Orland di Norwegia. Menurut sejumlah pejabat pertahanan, misi akan dimulai di Arktik dan ruang udara internasional dalam tiga pekan ke depan di lepas barat laut Rusia.
Arktik merupakan wilayah strategis sebagai upaya menunjukkan pertahanan sekutu dari berbagai serangan. Rusia secara aktif melakukan agresi dengan perbatasan negara di kawasan tersebut.
Sementara itu, Komandan Angkatan Udara AS di Eropa dan Afrika, Jeff Harrigian menyebutkan bahwa pergerakan pasukan ke Rusia menandakan Washington dapat bereaksi lebih cepat terhadap potensi agresi Moskow.
"Kesiapan operasional dan kemampuan kami untuk mendukung sekutu dan mitra serta merespons dengan cepat sangat penting untuk kesuksesan kekuatan militer gabungan," kata Harrigian seperti mengutip CNN Indonesia, Selasa (9/2).
Hingga saat ini misi militer As di daerah Kutub Utara sebagian besar dilakukan di luar Inggris Raya.
"Investasi Rusia baru-baru ini di Arktik termasuk jaringan aset udara ofensif dan sistem rudal pesisir," kata sekretaris Angkatan Udara di era Trump, Barbara Barrett.
Selama ini, kata Barrett, AS menilai bahwa Rusia mendominasi akses Arktik dengan hampir 25 persen dari produk domestik bruto berasal dari hidrokarbon di utara Arktik.
Selain jet tempur pembom B-1 yang dikerahkan, Pentagon dalam beberapa bulan terakhir juga sudah mengoperasikan pesawat serupa B-52 di Timur Tengah untuk mengantisipasi potensi ketegangan di kawasan teluk.
Pemerintahan Presiden Joe Biden menunjukkan kesiapannya melakukan pendekatan yang lebih keras ke Rusia, dibandingkan era Trump. Akhir bulan lalu, Biden melakukan pendekatan dengan menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin untuk pertama kalinya.
Dalam percakapan telepon itu, Biden mengkonfrontasi sejumlah isu, mulai dari serangan siber secara massif hingga dugaan keracunan tokoh oposisi, Alexei Navalny.
Sumber: CNN Indonesia

Comment