Penyalainews - Adanya peningkatan frekuensi gempa kecil sejak awal tahun disertai dan seismik yang masih menyimpan energi di Jawa Timur (Jatim) berpotensi terjadinya gempa dan tsunami di pesisir selatan daerah itu. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahkan memberi peringatan untuk ini.
Kepala BMKG, Dwikora Karnawati menjelaskan pihaknya sudah mengamati dan menganalisis fenomena gempa bumi yang meningkat di Jawa Timur beberapa waktu terakhir. Berdasarkan hasil analisis tersebut, Jatim mengalami peningkatan jumlah gempa-gempa berkekuatan kecil.
"Sejak awal tahun kami survei. Mulai tahun-tahun sebelumnya rata-rata gempa 300-400 kali, tapi mulai Januari itu sudah lompat 600 kali lebih dan memang rata-rata 600 kali saat ini, di Jatim terjadi lompatan," kata Dwikorita, mengutip CNN Indonesia, Sabtu (29/5).
"Kami susuri pantai mulai Jatim sampai Selat Sunda untuk mengecek yang kami khawatirkan; gempa-gempa yang kekuatan (magnitudo) di atas 7 dan diprediksi yang skenario terburuk [magnitudo] 8,7 ini bisa membangkitkan tsunami," lanjutnya.
Dwikora mengatakan hasil kajian itu sekaligus untuk memeriksa kesiapan aparat dan pemerintah daerah setempat. Serta, untuk menyiapkan sarana dan prasarana untuk lokasi evakuasi jika terjadi tsunami.
Gempa-gempa kecil yang belakangan sering mengguncang Jatim, menurutnya, merupakan alarm bagi semua pihak. Kendati bukan berarti akan ada gempa besar, namun sebutnya, tren peningkatan gempa-gempa dengan kekuatan kecil di itu biasanya mengawali gempa-gempa besar.
"Di selatan Jatim, dari sekian ratus kejadian gempa sejak 2008, kelihatan ada zona yang kosong, tidak ada titik-titik pusat gempanya. Zona-zona yang kosong ini dari yang dikatakan sebagai seismik gap yang dikhawatirkan," jelasnya.
Dia menyebutkan, zona-zona tersebut belum melepaskan energi sebagai gempa. Melainkan, masih tersimpan yang artinya baru bersiap-siap untuk lepas.
"Ini yang kami jadikan skenario, kita ambil kemungkinan magnitudo tertinggi 8,7 ini juga berdasarkan kajian pusat studi gempa nasional," tutur Dwikorita.
Selain itu, Dwikorita mengatakan, dari hasil analisis BMKG, seluruh pesisir Jatim berpotensi untuk diterjang tsunami apabila ada gempa besar.
"Hasil analisis kami untuk wilayah Jatim, seluruh pesisir itu potensinya, tinggi maksimum 26-29 meter di Kabupaten Trenggalek, itu tinggi maksimum. Waktu tiba tercepat 20-24 menit di Kabupaten Blitar," ujarnya.
Selain itu, analisis dan kajian BMKG menyebutkan hasil bahwa potensi genangan hasil tsunami tersebut dapat mencapai setinggi 22 meter.
"Ini sudah masuk genangan, bukan tinggi gelombang di pinggir pantai. Genangan bisa mencapai 22 meter, ini sampai masuknya juga menjorok cukup jauh [ke darat]," pungkasnya.

Comment