Penyalainews , Pekanbaru - Mahasiswa yang menjadi korban diduga pengeroyokan saat agenda Musyawarah Daerah (Musda) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Riau di Universitas Lancang Kuning (Unilak) akhirnya membuat Laporan Polisi (LP).
Peristiwa represif itu terjadi saat beberapa peserta memilih walk out (WO) saat agenda berlangsung. Alasannya, agenda itu sudah tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Ya benar. Kita telah membuat laporan atas tindakan represif itu ke pihak kepolisian pada Kamis (26/12) di SKPT Polresta Pekanbaru,” ujar Novrio, Minggu (29/12).
Atas tindakan itu, sebut Novrio, forum mahasiswa tercoreng dengan tindakan premanisme yang dilakukan oleh tuan rumah sendiri. “Dan ini sangat memalukan,” ucapnya.
Dirinya masih mempertanyakan alasan panita melakukan tindakan pengeroyokan itu. “Soalnya saya tak habis pikir. Kalau memang kami (BEM UMRI,red) dan beberapa rekan lainnya yang walk out (WO) dan keluar dari Forum BEM se-Riau yang sedang berlangsung, kenapa kami harus dikejar secara membabi buta dan beberapa membawa kayu,” tambahnya.
Salahseorang mahasiswa UMRI, Abrar yang menjadi pelapor dalam kejadian itu menduga bahwa ada provokator di balik tindakan represif itu.
“Saya dipukuli oleh beberapa orang yang tiba-tiba mendatangi saya, saya diseret dengan lengan dikepit di leher. Saya kemudian dipukul secara beramai-ramai. Mereka itu menggunakan PDH berwarna kuning,” jelasnya.***red/frd
Sumber : Haluanriau

Comment